Rabu, 25 Januari 2012

J.L Austin dan Cinta bagi Sebuah Negeri Bernama Indonesia

       
      "....................Bosan juga berbicara tentang cinta kepada negeri ini. Semua orang membincangnya. Dari yang hanya obrolan sepele sampai yang sangat serius dan teoritis. Tapi negeri yang dicinta ini tak ujung berubah. Justru tambah susah. Malah, semakin kacau dan tak terarah. Ada apa dengan negeri yang katanya dicinta rakyatnya ini? Apa rakyatnya tak mengerti cinta? Atau mereka Cuma berpura-pura cinta? Atau jangan-jangan tidak ada yang cinta? Cinta, Dasar Cinta, Gombal! Kenapa Harus Cinta? Apa Pentingnya?.............................."

      Dari sudut pandang manapun, kecintaan, apapun anda menyebutnya, merupakan suatu hal yang esensial bagi eksistensi suatu Negara. Agama menganjurkan kita untuk cinta kepada tanah air. Filsuf Yunani dan yang Non-Yunani juga berujar demikian. Apalagi kalau anda menanyakannya pada Machiavelli yang justru menghalalkan segala cara demi kejayaan negerinya sendiri. Tidak perlu dituliskan aturan supaya orang mencintai negerinya. Tidak perlu hal itu dikonstitusikan. Semuanya sangat jelas. Saking jelasnya hingga banyak orang bingung bagaimana cara mencintai negerinya. Barangkali cinta kepada selain Negara (dan Tuhan) lebih gampang untuk dimanifestasikan. Tak perlu teori dan tak perlu diskusi untuk mewujudkan cinta jenis ini.
       
     Secara Intuitif, manusia pasti menginginkan gerak menuju arah positif yang lebih baik. Manusia hidup dalam sebuah wadah social bernama Negara dan karenanya ingin wadah tersebut bergerak menuju arah yang diharapkan. Cinta tak mungkin banyak dibicarakan kalau sebuah negeri berada dalam kejayaan. Cinta adalah buah bibir (dan komoditas bisnis media) saat suatu negeri sedang terombang-ambing menuju keruntuhan. Saat cinta sedang dibicarakan, bukan cinta yang sebenarnya dicari. Bukan, bukan cinta yang sedang dicari hakikatnya. Arah pembicaraan bukan untuk menguak apa arti cinta, tapi bertujuan mencari tindakan yang bisa diattributi dengan cinta.

      J.L Austin, seorang filsuf bahasa pernah berujar bahwa kata-kata tidak hanya digunakan untuk mengekspresikan sesuatu, tetapi juga digunakan untuk melakukan tindakan. Konsep ini disebut “Speech Act”. Ada tiga dimensi dalam teori Austin tersebut. Ketika seseorang mengatakan A, dimensi pertamanya adalah dimensi makna dari apa yang diujarkan; perkataan sesorang itu bermakna dan informatif. Ini disebut Lokusi. Dimensi kedua adalah dimensi ilokusi yang diartikan sebagai tindakan yang terjadi akibat dimensi pertama. Suatu ucapan tidak hanya berarti sebuah informasi dan gagasan, tapi berarti juga tindakan dalam waktu yang bersamaan. Dimensi terakhir disebut perlokusi. Dalam buku monumental “How to do things with words”, perlokusi diartikan sebagai efek yang timbul dari tindakan yang dilakukan dalam kehidupan nyata.

      Penulis hendak memakai konsep J.L Austin untuk memahami “cinta” yang ditujukan kepada “negeri”. Ketika dikatakan “aku cinta negeriku”, slogan itu hakikatnya tidak ditujukan untuk memberi anda informasi. Bukan pula untuk sekedar menunjukkan bagaimana perasaan anda kepada negeri terkait. Ironis jika yang dimaksudkan demikian. Tak perlu ada yang dikambinghitamkan kalau ternyata “cinta” hanya dipahami sebatas ini. Semboyan “aku cinta negeriku” secara ilokusi bermakna tindakan, bukan ucapan. Anda berbohong jika mengatakan slogan tersebut tapi tidak ada tindakan nyata. Cinta itu tindakan, bukan sekedar tuturan. Cinta itu bukan arti kata yang anda temukan di dalam kamus bahasa, tapi cinta adalah tindakan yang bisa dilihat di alam realita sehari-hari. Cinta itu bukan sesuatu yang anda bicarakan dengan teman dan guru, tetapi apa yang anda lakukan bersama orang lain untuk merubah apa yang tidak semestinya.

      Secara perlokusi, cinta adalah sesuatu yang membuahkan hasil. Cinta adalah tindakan yang mempunyai efek atau daya rubah. Jangan pernah mengatakan “aku cinta negeriku” jikalau tindakan anda tak berbuah positif bagi negeri anda. Tak mudah untuk mengatakan “cinta” menurut Austin. Cinta itu berdimensi, berlapis dan bertingkat. Cinta itu mungkin hanya bermakna ujaran bagi para pecundang dan pengecut, bagi mereka para demagog, mereka para produsen kata-kata yang tak mengerti bedanya maya dan realita. Cinta bisa hanya dimengerti sampai batas tindakan oleh mereka yang cepat puas, mereka yang cepat bangga dengan apa yang dikerjakan. Namun, bagi Austin, cinta itu lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Cinta ala Negeri Indonesia 

      Cintanya kebanyakan rakyat Indonesia kepada negerinya hanya sebatas cinta dalam dimensi lokusi. Cinta sebatas ujaran dan yang sejenisnya, entah itu sticker dan simbol-simbol lain yang berisi “cinta” harfiah. Di mobil yang mereka kendarai, tertempel di kaos yang mereka pakai, dan di kaca rumah mereka. Ya, beginilah situasinya dalam kacamata penulis. Mereka menganggap dengan memasang logo tertentu, mengibarkan bendera setiap bulan Agustus adalah bukti cinta mereka kepada negerinya. Semua itu sama dengan ujaran belaka. Sticker, bendera dan simbol lainnya tidak punya arti nyata bagi negeri yang katanya dicintai. Sama dengan ujaran yang tak ada manfaatnya. Dengan menggunakan titik tolak teori Austin, sudah saatnya kita merombak pemahaman kita terhadap konsep “cinta negeri”. Cinta dengan tiga dimensi yang menyertainya harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. Sadarkan diri kita bahwa cinta bukan hanya ujaran, tapi juga tindakan dan efek yang menyertainya. Internalisasikan konsep cinta yang demikian dalam nurani dan alam bawah sadar kita. Cintai negeri ini dengan lokusi, ilokusi dan perlokusi.

     Pakai batik buatan orang Indonesia dan berbanggalah. Ajak teman-teman anda untuk melakukan hal yang sama. Jangan menjadi orang yang hanya berteriak lantang “aku bangga akan batik”, tapi tidak berbuat apapun, hanya ucapan yang ia sanggup sumbangkan. Makanlah makanan hasil dari tangan petani asli Indonesia dan bersyukurlah. Jangan anda berdiskusi dan meneriakkan “saya melindungi para petani”, tetapi anda justru berfoya-foya dengan Vodka dan Hanamasa. Tonton hasil karya sineas pribumi, dan jangan bajak hasil jerih payah mereka. Tak perlu berbangga dengan film yang serba -wood, baik Hollywood maupun bollywood. Apresiasi karya mereka dan sebarkan bahwa, seniman Indonesia juga hebat dan kreatif. Tidak ada gunanya anda menempel stiker film Indonesia terbaru tapi anda justru menonton “Transformer” dan lebih bangga dengannya.

     Omong kosong anda berteriak “basmi korupsi”, tetapi dalam kehidupan sehari-hari anda sering tidak jujur, tidak adil, tidak transparan dan tidak malu-malu berbuat salah. Anda mencontek saat ulangan, anda menipu rekan bisnis, anda mencuri dan mendzolimi orang merupakan bentuk “korupsi” juga. Anda tak perlu mencela dan menghujat koruptor, sedangkan anda berdiam diri melihat praktek korupsi di depan mata sendiri. Hargai budaya lokal masyarakat dan praktikkanlah ritus-ritusnya. Jangan pernah berbangga dengan dansa kalau anda mengatakan cinta Indonesia dan tidak mengerti apa itu Jaipong dan Saman. Lestarikan budaya warisan leluhur yang menjadi ciri bangsa ini kalau anda cinta, lestarikan, bukan katakan. Jadilah warga yang berhati local, berfikir global, dan berinteraksi secara internasional. Cinta kepada negeri ini tidak cukup hanya dengan melakukan tindakan pemakaian produk dalam negeri, melaksanakan ritus budaya dan mengamalkan nilai-nilai moralitas yang sudah tersosialisasi dalam diri kita sebagai warga Indonesia. Tidak, semua itu belumlah cukup. Lakukan hal lain (yang juga berupa tindakan) yang berefek besar bagi selain kita, bagi orang lain. Ajak dan ajarkan kepada yang lain bagaimana menyikapi produk local. Beritahu dan kerjakan bersama mereka ritus budaya yang dijunjung tinggi. Cinta kepada negeri tidak hanya terbatas kepada diri sendiri, tetapi juga orang lain sehingga merasakan efek dari tindakan kita.  

Sudahkah kita cinta?

     Secara lokusi, setiap hari kita mengatakan kita cinta negeri kita ini, Indonesia. Tapi secara ilokusi dan perlokusi, mungkin sebagian besar kita belum. Penulis menyadari benar akan hal ini. Semoga esai ini bermanfaat untuk menanamkan kepada para pembaca arti cinta yang sebenarnya bagi sebuah negeri bernama Indonesia.

3 komentar:

  1. i like it :) belajar linguistik dimana mas??

    BalasHapus
  2. Selaras dengan pendapat blogger shohib.. Sedikit menggelitik untuk berkomntar (walau maaf kalu akhirnya keasikan dan bisa lebih panjang dari blogger :p )...

    setiap "step" dari "cinta" tersebut yg memang memiliki daya masing - masing sesuai dengan konsekuensinya, juga terpengaruh oleh hambatan-hambatannya.

    Misalnya si "cinta" di lokusi ini, hampir semua orang bisa melakukannya "semudah membalikan telapak tangan"... Semua orang bisa dengan mudah menyalin gambar "i love indonesia" (seperti yg dilakukan sdr blogger pada head field diatas) dari google.

    Lain halnya dengan cinta ILOKUSI, yang secara umum dalam konsep austin biasa dilambangkan dengan adanya "force" atau daya yg didorong oleh sebuah motif atau alasan (biasanya yg cukup kuat) untuk mencapai hasil tertentu dalam perbuatannya(act).. hal ini terjadi dalam berbagai pengungkapan rasa cinta tanah air, baik dalam konteks (yg herannya ada juga) yg negative maupun positive.

    Dalam konteks negatif menurut saya, Tidak sedikit pejabat yang sedang dalam masa pemilihan, pada suatu pertandingan spakbola misalnya, yg memiliki banyak massa(penonton) sampai mencorat - coret wajahnya dengan corak khas kebanggan kita﹑"merah - putih", juga rela duduk berdesakan dengan penonton di tribun umum (tentu, tanpa bermaksud bersikap sarkastik, andai ia adalah seorang yang terbiasa dengan lingkungan dan perbauran dengan rakyat kecil, yang populer dahlan iskan atau joko widodo misalnya, tentu hal ini tidak jadi soal, dan tidak ada implikasi negatif. Tp apa yg terjadi bila ini dilakukan oleh para pejabat yg biasa bergaya "jetset"??). Dan pada kesempatan - kesempatan berikutnya dia tidak lagi (tertarik) melakukan hal tersebut. Bila tidak keliru, saya menerjemahkan tindakan ini sebagai sebuah ilokusi (yg negatif tentu saja) untuk mendapatkan simpati besar.

    Tentu saja, tanpa bersikap apatis, konteks ilokusi positif dalam hal cinta bangsa ini jauh lebih sulit ditemukan. Hanya sedikit orang - orang yg berusaha keras untuk menyisihkan kepentingan pribadinya untuk mendorong keberhasilan bagi bangsanya. Tanpa ingin mencitrakan siapapun, mungkin ada beberapa figur yg diam - diam menolak fasilita negara, diam - diam melakukan hal besar walau belum memberi dampak dahsyat (tentusaja ini sudah termasuk ilokusi menurut saya). Namun kita boleh kecewa, orang ini sangat-sangat sulit ditemui..

    Bagaimana dengan hambatan Dan peristiwa pada sebuah dimensi perlokusinya...? Jika pada tingkkat ilokusi positif saja sudah sulit, maaf pada tngkat perlokusi, bisa kita bilang hampir mustahil.

    Trims untuk poost yang menarik dan menggelitik keprihatinan kita bersama, yang tentu saja, harusnya ddapat mendorong kita untuk lebih banyak lagi memberikan ilokusi positif supaya (siapa tahu) nantinya bisa memberikan perlokusi yang dahsyat. :)

    BalasHapus
  3. wah, dua komen di atas "anonim", coba pake ID nya, bisa sharing2 kita...:) :D...iya Sya blajar Ling di UIN Jkrta...Trims ya semua komennya...

    BalasHapus