Selasa, 07 Februari 2012

Me and Mahasiswa Towson University @atamerica



   Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman PMII diundang untuk mengikuti acara berbagi pengalaman beragama dengan mahasiswa Towson University di Pacific Place Mall. Sebuah agenda yang menarik tentunya. Acara sharing ini diselenggarakan dengan sistem video conference. Pada mulanya, PMII diagendakan menjadi moderator untuk acara ini, namun entah kenapa tiba-tiba diganti dengan komunitas Remaja Sunda Kelapa. 




   Saya berharap banyak dengan acara ini. Saya yakin dengan pengalaman beragama orang - orang Indonesia yang sudah level "sophisticated" dan juga kadang terlalu "complicated". Acara dimulai dengan perkenalan dan saling sapa. lalu dengan basa-basi komunikasi. Setelah hampir setengah jam berjalan, ternyata acara belum serius juga. Masih santai dan seolah-olah ini malah curhat cuaca. Tak sabar, saya tulis saran di twitter dengan mention @atamerica yang langsung ditampilkan di layar besar sebelah kanan ruangan (FYI: pacific place mall lantai 3, tepatnya di pojok ruangan ada space bernama @atamerica yang didesain sebagai tempat display teknologi Amerika terkini, tak heran jika setiap orang yang masuk dipinjami IPAD satu persatu). Ada peserta lain yang juga melakukan hal sama: meminta acara agar agak lebih serius. 

    Saat mahasiswa Towson mulai "semangat", topik menjadi hangat, yakni tentang diskriminasi yang mereka alami di kampus. Tanpa dinyana, Saya kembali bertemu dengan Imam Bashar Arafat, figur yang pernah mengisi acara International Interfaith Youth Meeting di Yogyakarta yang pada saat itu saya menjadi moderator. Di video, dia menjadi pendamping mahasiswa Towson. Saya masih menyimpan pertanyaan penting untuknya hingga saat di Pacific. Bashar adalah seorang figur yang menarik: lahir di Damaskus, Tinggal di Amerika dan fasih berbicara Muhammadiyah, NU dan Indonesia. Saat sesi tanya jawab dimulai, saya mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Tapi, entah kenapa selalu perempuan yang dipilih. Dan saya pun tidak punya kesempatan bertanya. Dengan sistuasi yang demikian, pertanyaan untuk Bashar masih tersimpan dan akan disampaikan di meeting selanjutnya (entah kapan, hehe).

   Mahasiswa Towson yang mengamati dengan serius pun mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mereka yang didepan. Akhirnya moderator memberikan kesempatan pada audiens untuk menjawab. Saya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Dan cuma saya ternyata yang mengangkat tangan. Akhirnya kesempatan berbicara saya dapatkan. Saya ngomong panjang, ngalor ngidul berbicara soal keragaman agama di Indonesia dan relasinya dengan kehidupan sosial, ekonomi dan politiknya. Karena terlalu panjang, moderator menanyakan ke mahasiswa Towson soal penjelasan saya, dan mereka dengan tersenyum mengatakan "VERY".

    Saya pun didatangi wartawan untuk wawancara dan dipuji oleh staff kedubes atas jawaban yang disampaikan. Saya jelaskan panjang lebar soal bedanya masalah yang dialami minoritas Muslim di Amerika dengan masalah yang ddihadapi mayoritas muslim di Indonesia. Semua penjelasan saya cuma direduksi kedalam satu paragraf oleh wartwan tersebut. Hehehehe. Bisa cek disini disini.


Akhirnya, kunjungan dan sharing ini diakhiri dengan foto-foto.........






    Bagi Muslim, menjadi mayoritas ataupun minoritas di sebuah negara tak jadi soal, tetapi kalaupun ada masalah, masalahnya pasti berbeda-beda. Dan penjelasan yang saya sampaikan di forum ini akan saya jadikan tulisan di blog ini, nantinya. :-)


Senin, 30 Januari 2012

Indonesia dan Inter Milan : Catatan Ringan



Indonesia adalah sebuah negara besar yang mana sepak bola merupakan “ritual” yang hanya bisa “dikalahkan” oleh agama. Saking besarnya antusias masyarakat terhadap calcio, Indonesia bisa dikatakan pasar terbesar kedua industri bola setelah China. Tak salah jika klub-klub bola besar dunia mau datang dan memainkan pertandingan persahabatan di GBK. Bagi mereka yang fanatis dan menggemari bola “like a crazy”, mendapat kunjungan tim pujaan adalah mimpi, anugerah dan sesuatu yang “wah”. Internazionale FC yang merupakan salah satu klub terbesar di dunia itu akan bertandang di sini, di tanah Bhinneka. Bagi para fans Inter, kedatangan tim pujaan mereka ini merupakan sesuatu yang dahsyat. Ini adalah momen pemuas dan pelepas kerinduan. Dan apa akhirnya, kabar ini resmi. It is official that Inter will play against Indonesia TWICE. Ini barangkali adalah semacam “trofi tambahan” setelah di Mei 2010 inter meraih Triplete.

Indonesia menjadi sesuatu yang sangat diperhitungkan FC Internazionale sejak tahun 1990an. Inter Milan mengakui dan mengganggap komunitas ICI (Inter Club Indonesia) sebagai bagian resmi dari tifosi globalnya. ICI mempunyai lebih dari 40 cabang di seluruh Indonesia dengan lebih dari 39.000 member resmi. Tetapi ini bukanlah jumlah fans inter secara keseluruhan. Tifosi yang bergabung dengan forum non ICI jumlahnya banyak dan yang supporter yang non-member jumlahnya jutaan orang. Atas hal-hal ini, ICI masuk dalam buku sejarah Inter yang ditandatangani oleh Il-Capitano Javier Zanetti. Lalu, tahun 2008 menjadi saat yang spesial bagi Indonesia. Itu adalah momen bertemunya ketua ICI sekaligus salah satu pendiri TopSkor (Entong Nursanto) dengan Presiden Moratti di Saras Office. Saat itu Presiden berjanji akan mengunjungi Indonesia bersama seluruh punggawa Inter. Kepastian waktu memang tidak diperbincangkan saat itu. Tapi hal ini adalah salah satu momen historis bagi Tifosi Nerazzuri.



Di 2011, setahun setelah Inter meraih Treble, Inter menjadikan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi dari situs web Inter (www.indonesia.Inter.it). Sebuah kebanggaan tentunya melihat bendera Indonesia ber”kibar” dan terlihat secara global di situs klub ini. Bahkan, Pazzini dan Ranocchia mengenakan kaos berbendara dan berbahasa Indonesia di hari peresmiannya. Hal ini semakin membuat Interisti giat melihat info resmi dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terbesar yang mengakses web Inter. Di tahun yang sama, tepatnya di penghujung tahun, Ketua ICI mendapat surel (surat elektronik) dari direktur marketing Inter kalau Inter akan resmi berkunjung ke Indonesia dan TopSkor didaulat untuk mengorganisirnya. Dan mulailah. Mulailah bertebaran Iklan Inter di media Indonesia. Di web, di billboard jalan raya, di forum dan dimanapun inter ramai diperbincangkan. Dan utusan Inter bagi Indonesia datang di awal 2012, yakni tangan kanan Presiden Inter kelahiran Bari, Ernesto Paollilo. 

Sebagai catatan, Indonesia adalah negara pertama di Asia yang didatangi CEO Inter, Ernesto Paolillo untuk turnya di 2012. China memang mempunyai basis interisti yang lebih besar, Jepang memang telah berkontribusi dengan “menempatkan” Nagatomo di skuad utama Inter, tetapi Indonesia adalah Indonesia.

Inter dalam situs resminya mengatakan “It is an honour”, sebuah kehormatan berkunjung di Indonesia. Ernesto bahkan mengatakan “we wanna be a part of Indonesia” di acara DAHSYATNYA INTER yang disiarkan RCTI beberapa hari lalu. Ia juga mengatakan kalau antusiasme tifosi inter yang ia lihat di Jakarta jauh melebihi antusiasme seluruh fans di kota Milan. Inter sengaja meminta pertandingan melawan Indonesia dimainkan dua kali, bukan sekali sebagaimana sewajarnya yang dilakukan klub Eropa ketika berlaga di Asia. “Inter yang memintanya” kata Entong. Inter juga akan membuat Inter Village di kawasan GBK dalam rangka memenuhi hasrat dan antusiasme Interisti Indonesia. Dan sebentar lagi, sekolah sepak bola Inter akan dibuka. “Inter Campus” namanya. "Yang terpenting kami bukan hanya bermain dengan Indonesia saja. Tapi kami akan tinggal dalam jangka lama di negeri Indonesia untuk membuat suatu akademi," kata Ernesto.

Coba buka situs Inter, dan anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Situs Inter penuh dengan “keindonesiaan”. Dimulai dari penyambutan Ernesto di Bandara. Ada banyak foto orang Indonesia bernyanyi dan beryel-yel ala Curva Nord. Tak hanya lelaki, tetapi juga anak-anak rela menunggu dan juga perempuan-perempuan berjilbab yang terlihat anggun dalam rangka menyambut Ernesto. Semau dipostkan resmi di situs Inter. Lalu saat Nobar di Ricks Cafe, Conference Press yang dihelat di Hotel Mulia Senayan dan juga Meet and Greet bareng tim ICI yang membuat Ernesto takjub dan mengatakan “Kalian merupakan fan Inter terbaik yang pernah saya lihat. Setelah menyaksikan apa yang telah kalian berikan kepada saya, sulit untuk menolak permintaan kalian”.

Lalu ada juga video ICI yang resmi dipublikasi di situs Inter.it. Agenda rutin nobar, futsal dan juga charity yang dipajang dalam format video dan disaksikan Interisti di seluruh dunia. Ini adalah hal yang belum pernah didapat fans inter luar negeri manapun selain Indonesia. Inter lewat situsnya, maupun akun FB dan Twitternya, selalu mengupdate berita tentang Indonesia hingga memenuhi halaman dan mengundang kecemburuan dari Interisti di negeri lainnya.

Tak pelak, semua hal tersebut membuat Ernesto kagum dan mengatakan "Oleh karenanya kita akan membantu mencari pemain (bagus) di sini, Jadi kami tidak akan satu, dua tahun di sini. Saya akan mencari pemain dan pelatih di Indonesia,".

RCTI akan mengawal dan menjadi “official” broadcaster Inter di Indonesia. Menurut situs okezone.com “Selain menyiarkan ujicoba, RCTI juga bakal secara khusus akan menampilkan rangkaian program spesial untuk menyambut kedatangan mereka. Tim papan atas Eropa ini akan tampil di beberapa reguler RCTI yakni dahsyat, Seputar Indonesia, konser musik, spektakuler, Indonesian Idol 2012, dan Master Chef Season 2. Sementara itu, Reality Show Inter Milan dan Filler akan dibuat khusus untuk mengupas lebih dalam mengenai Inter Milan. "Nanti kami akan membuat konsep dimana ada tim yang berangkat dari Singapura melakukan perjalanan ke Indonesia untuk menonton Inter Milan," ujar Direktur Programing RCTI.

Inter tak salah memilih Indonesia. Dan nanti di bulan Mei, Interisti akan memperlihatkan gaya “Indonesia” plus “Curva Nord” di “Gelora Meazza” Senayan. ICI dan tifosi Nerazzuri akan membuktikan kalau Interisti di Indonesia adalah yang terbaik. Forza Inter Ale !!!!!!!!


Kamis, 26 Januari 2012

“Perbanyak Sekolah, Bukan Masjid” : Konsepsi Pendidikan Fethullah Gulen


               Fethullah Gulen adalah seorang pemikir Turki kenamaan yang tinggal di Amerika Serikat. Ia sangat masyhur dengan gerakan filantropi internasional yang sering disebut Hizmet. Ia adalah seorang pemikir ulung tentang harmonisasi sains dan ilmu-ilmu keislaman, selain juga konseptor pendidikan. Seperti Freire yang punya pandangan khas tentang edukasi, Gulen pun memiliki pandangan yang istimewa. Bagi Gulen, Al-Qur’an saat pertama kali diturunkan telah mewahyukan kewajiban simbolis untuk belajar bukan hanya kepada Muhammad sebagai penerima wahyu, namun bagi seluruh umat manusia. Karenanya, pendidikan (yang notabenenya kata benda, namun bermakna kata kerja, baik dalam artinya yang aktif, mendidik dan maknanya yang pasif, dididik) adalah kewajiban bagi semua orang. Gulen sendiri mencontohkannya dengan menjadi pendidik, baik secara lisan maupun perbuatan. 


           Gulen adalah seorang pendidik sejati. Baginya, makna wahyu pertama tertekan pada kewajiban belajar, bukan beribadah. Karena hanya dengan belajar yang benar kita bisa beribadah yang sah. Tak salah bila pada suatu kali, Gulen berujar: “Perbanyak Sekolah, Bukan Masjid (Instead of Mosques).
                Dalam bahasa yang lain, Gulen menyatakan bahwa kewajiban manusia adalah memahami (seek understanding), dengan jalan dan cara apapun. Pendidikan adalah sarana menuju pemahaman yang dimaksudkan. Gulen mendefinisikan pendidikan sebagai proses penyempurnaan dalam hidup yang dengannya kita bisa meraih dimensi spiritual, intelektual dan fisikal kemanusiaan. Baginya, pendidikan adalah tugas Ilahiyah yang hanya dengan itulah kita bisa merasakan esensi kemanusiaan. Pendidikan dalam perspektif Gulen adalah “Special Service” yang menjadi tugas kolektif berbasis komunitas. Hal ini disebabkan pandangannya bahwa tujuan hidup terletak pada kebaikan (baca: berbuat baik) yang dilakukan secara bersama-sama. Pandangan Gulen tentang pendidikan dengan demikian tersimpul dan terkait erat dengan sisi keimanannya (fully-integrated with his belief).
                Suatu kali, Gulen pernah berujar “we are only truly human if we learn, teach and inspire others”. Kita menjadi manusia hanya karena kita belajar, mendidik dan menginspirasi orang lain. Esensi kemanusian kita dengan demikian bukanlah akal, otak ataupun pikiran, tetapi penggunaan akal agar berguna dan bermanfaat buat orang lain. Pendidikan berbandinglurus dan sederajat dengan kemanusiaan kita. Gulen sering membandingkan manusia dengan hewan dalam soal pendidikan. Hewan hanya dalam hitungan hari bisa mendapatkan kemampuan untuk digunakan seumur hidupnya. Sementara manusia memerlukan puluhan tahun untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan mengenal Tuhannya. Bahkan ada manusia yang hingga akhir hayatnya belum mendapatkan bekal kehidupannya.
                Soal integrasi pandangannya tentang pendidikan dengan keimanan, ini bisa dibuktikan, misalnya dengan kukuhnya pendirian Gulen tentang mustahilnya ketidaksesuain ilmu pengetahuan modern (Science) dengan ajaran agama (Religious Knowledge). Baginya, Agama dan Ilmu Pengetahuan bukanlah dua hal yang berbeda (dan harus dibedakan) tetapi dua hal yang esensial dan melengkapi satu sama lain (komplementer). Belajar Science dan agama harus sama-sama dipandang sebagai kegiatan ibadah. Lebih jauh, beliau berandai, jika saja tidak ada serangan bangsa Mongol dan tidak terjadi perang salib (Crusade), maka dunia Islam pasti tercerahkan (enlightened) dan tidak mengalami kemunduran. Dan tentunya, jika pengandaian ini benar, kontradiksi Science dan Religious Knowledge bisa terhindar dari polarisasi. Dengan demikian, Sains hanyalah sesuatu yang berusaha mengamati dan mempelajari ayat-ayat kauniyyah Tuhan yang Maha Esa. Karenanya, Agama akan memandu agar sains tetap dijalan yang semestinya.
                Menurutnya, ada 3 musuh di dunia ini yang harus dibasmi dan dihilangkan. Ketiga hal tersebut adalah kebodohan, kemiskinan dan “internal schism”. Kemiskinan bisa direduksi bahkan dihilangkan dengan penyediaan lapangan kerja dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Zakat dan Shodaqoh meruapakan cara-cara untuk mengatasinya. Internal schism semisal ancaman separatisme bisa dihilangkan dengan komunikasi pihak-pihak yang terlibat dan mendiskusikan masalah yang melatarbelakangi dan berusaha mencari solusinya. Ancaman yang sering merongrong sebuah negara ini bisa diatasi misal dengan pemberian status khusus ataupun otonomi. Kebodohan (ignorance) hanya bisa diatasi lewat jalur pendidikan. Baginya, kita dikirim kedunia untuk belajar dan menyempurnakan diri lewat pendidikan. Pendidikan adalah “human service”.  
                Pendidikan tidak hanya dijalankan lewat sebuah institusi khusus, madrasah dan sekolah misalnya, tetapi juga harus dilaksanakan bahkan hingga di rumah dan tempat tinggal. Tak heran bila Gulen berpendapat bahwa rumah manusia harus berfungsi sebagai tempat ibadah dan unit pendidikan. Menurut Gulen, sekolah hanyalah mirip seperti laboratorium kehidupan. Pendidikan dalam opini beliau adalah hal tersulit dalam hidup dan juga yang paling sakral. Karenanya Nabi pernah bersabda bahwasanya pendidikan itu dari buaian sampai liang lahat.
                Gulen sangat mengagumi dan terinspirasi oleh Sa’id Nursi, sang Bediuzzaman. Dalam pandangan Sa’id Nursi, ilmu pengetahuan apapun hanya mencerahkan, mengiluminasi pikiran kita. Kita butuh satu elemen lain, yakni keimanan dan kebajikan (faith and virtue) untuk mencapai kejernihan kalbu. Inilah yang mengukuhkan Gulen akan perspektif pendidikannya.

Rabu, 25 Januari 2012

J.L Austin dan Cinta bagi Sebuah Negeri Bernama Indonesia

       
      "....................Bosan juga berbicara tentang cinta kepada negeri ini. Semua orang membincangnya. Dari yang hanya obrolan sepele sampai yang sangat serius dan teoritis. Tapi negeri yang dicinta ini tak ujung berubah. Justru tambah susah. Malah, semakin kacau dan tak terarah. Ada apa dengan negeri yang katanya dicinta rakyatnya ini? Apa rakyatnya tak mengerti cinta? Atau mereka Cuma berpura-pura cinta? Atau jangan-jangan tidak ada yang cinta? Cinta, Dasar Cinta, Gombal! Kenapa Harus Cinta? Apa Pentingnya?.............................."

      Dari sudut pandang manapun, kecintaan, apapun anda menyebutnya, merupakan suatu hal yang esensial bagi eksistensi suatu Negara. Agama menganjurkan kita untuk cinta kepada tanah air. Filsuf Yunani dan yang Non-Yunani juga berujar demikian. Apalagi kalau anda menanyakannya pada Machiavelli yang justru menghalalkan segala cara demi kejayaan negerinya sendiri. Tidak perlu dituliskan aturan supaya orang mencintai negerinya. Tidak perlu hal itu dikonstitusikan. Semuanya sangat jelas. Saking jelasnya hingga banyak orang bingung bagaimana cara mencintai negerinya. Barangkali cinta kepada selain Negara (dan Tuhan) lebih gampang untuk dimanifestasikan. Tak perlu teori dan tak perlu diskusi untuk mewujudkan cinta jenis ini.
       
     Secara Intuitif, manusia pasti menginginkan gerak menuju arah positif yang lebih baik. Manusia hidup dalam sebuah wadah social bernama Negara dan karenanya ingin wadah tersebut bergerak menuju arah yang diharapkan. Cinta tak mungkin banyak dibicarakan kalau sebuah negeri berada dalam kejayaan. Cinta adalah buah bibir (dan komoditas bisnis media) saat suatu negeri sedang terombang-ambing menuju keruntuhan. Saat cinta sedang dibicarakan, bukan cinta yang sebenarnya dicari. Bukan, bukan cinta yang sedang dicari hakikatnya. Arah pembicaraan bukan untuk menguak apa arti cinta, tapi bertujuan mencari tindakan yang bisa diattributi dengan cinta.

      J.L Austin, seorang filsuf bahasa pernah berujar bahwa kata-kata tidak hanya digunakan untuk mengekspresikan sesuatu, tetapi juga digunakan untuk melakukan tindakan. Konsep ini disebut “Speech Act”. Ada tiga dimensi dalam teori Austin tersebut. Ketika seseorang mengatakan A, dimensi pertamanya adalah dimensi makna dari apa yang diujarkan; perkataan sesorang itu bermakna dan informatif. Ini disebut Lokusi. Dimensi kedua adalah dimensi ilokusi yang diartikan sebagai tindakan yang terjadi akibat dimensi pertama. Suatu ucapan tidak hanya berarti sebuah informasi dan gagasan, tapi berarti juga tindakan dalam waktu yang bersamaan. Dimensi terakhir disebut perlokusi. Dalam buku monumental “How to do things with words”, perlokusi diartikan sebagai efek yang timbul dari tindakan yang dilakukan dalam kehidupan nyata.

      Penulis hendak memakai konsep J.L Austin untuk memahami “cinta” yang ditujukan kepada “negeri”. Ketika dikatakan “aku cinta negeriku”, slogan itu hakikatnya tidak ditujukan untuk memberi anda informasi. Bukan pula untuk sekedar menunjukkan bagaimana perasaan anda kepada negeri terkait. Ironis jika yang dimaksudkan demikian. Tak perlu ada yang dikambinghitamkan kalau ternyata “cinta” hanya dipahami sebatas ini. Semboyan “aku cinta negeriku” secara ilokusi bermakna tindakan, bukan ucapan. Anda berbohong jika mengatakan slogan tersebut tapi tidak ada tindakan nyata. Cinta itu tindakan, bukan sekedar tuturan. Cinta itu bukan arti kata yang anda temukan di dalam kamus bahasa, tapi cinta adalah tindakan yang bisa dilihat di alam realita sehari-hari. Cinta itu bukan sesuatu yang anda bicarakan dengan teman dan guru, tetapi apa yang anda lakukan bersama orang lain untuk merubah apa yang tidak semestinya.

      Secara perlokusi, cinta adalah sesuatu yang membuahkan hasil. Cinta adalah tindakan yang mempunyai efek atau daya rubah. Jangan pernah mengatakan “aku cinta negeriku” jikalau tindakan anda tak berbuah positif bagi negeri anda. Tak mudah untuk mengatakan “cinta” menurut Austin. Cinta itu berdimensi, berlapis dan bertingkat. Cinta itu mungkin hanya bermakna ujaran bagi para pecundang dan pengecut, bagi mereka para demagog, mereka para produsen kata-kata yang tak mengerti bedanya maya dan realita. Cinta bisa hanya dimengerti sampai batas tindakan oleh mereka yang cepat puas, mereka yang cepat bangga dengan apa yang dikerjakan. Namun, bagi Austin, cinta itu lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Cinta ala Negeri Indonesia 

      Cintanya kebanyakan rakyat Indonesia kepada negerinya hanya sebatas cinta dalam dimensi lokusi. Cinta sebatas ujaran dan yang sejenisnya, entah itu sticker dan simbol-simbol lain yang berisi “cinta” harfiah. Di mobil yang mereka kendarai, tertempel di kaos yang mereka pakai, dan di kaca rumah mereka. Ya, beginilah situasinya dalam kacamata penulis. Mereka menganggap dengan memasang logo tertentu, mengibarkan bendera setiap bulan Agustus adalah bukti cinta mereka kepada negerinya. Semua itu sama dengan ujaran belaka. Sticker, bendera dan simbol lainnya tidak punya arti nyata bagi negeri yang katanya dicintai. Sama dengan ujaran yang tak ada manfaatnya. Dengan menggunakan titik tolak teori Austin, sudah saatnya kita merombak pemahaman kita terhadap konsep “cinta negeri”. Cinta dengan tiga dimensi yang menyertainya harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. Sadarkan diri kita bahwa cinta bukan hanya ujaran, tapi juga tindakan dan efek yang menyertainya. Internalisasikan konsep cinta yang demikian dalam nurani dan alam bawah sadar kita. Cintai negeri ini dengan lokusi, ilokusi dan perlokusi.

     Pakai batik buatan orang Indonesia dan berbanggalah. Ajak teman-teman anda untuk melakukan hal yang sama. Jangan menjadi orang yang hanya berteriak lantang “aku bangga akan batik”, tapi tidak berbuat apapun, hanya ucapan yang ia sanggup sumbangkan. Makanlah makanan hasil dari tangan petani asli Indonesia dan bersyukurlah. Jangan anda berdiskusi dan meneriakkan “saya melindungi para petani”, tetapi anda justru berfoya-foya dengan Vodka dan Hanamasa. Tonton hasil karya sineas pribumi, dan jangan bajak hasil jerih payah mereka. Tak perlu berbangga dengan film yang serba -wood, baik Hollywood maupun bollywood. Apresiasi karya mereka dan sebarkan bahwa, seniman Indonesia juga hebat dan kreatif. Tidak ada gunanya anda menempel stiker film Indonesia terbaru tapi anda justru menonton “Transformer” dan lebih bangga dengannya.

     Omong kosong anda berteriak “basmi korupsi”, tetapi dalam kehidupan sehari-hari anda sering tidak jujur, tidak adil, tidak transparan dan tidak malu-malu berbuat salah. Anda mencontek saat ulangan, anda menipu rekan bisnis, anda mencuri dan mendzolimi orang merupakan bentuk “korupsi” juga. Anda tak perlu mencela dan menghujat koruptor, sedangkan anda berdiam diri melihat praktek korupsi di depan mata sendiri. Hargai budaya lokal masyarakat dan praktikkanlah ritus-ritusnya. Jangan pernah berbangga dengan dansa kalau anda mengatakan cinta Indonesia dan tidak mengerti apa itu Jaipong dan Saman. Lestarikan budaya warisan leluhur yang menjadi ciri bangsa ini kalau anda cinta, lestarikan, bukan katakan. Jadilah warga yang berhati local, berfikir global, dan berinteraksi secara internasional. Cinta kepada negeri ini tidak cukup hanya dengan melakukan tindakan pemakaian produk dalam negeri, melaksanakan ritus budaya dan mengamalkan nilai-nilai moralitas yang sudah tersosialisasi dalam diri kita sebagai warga Indonesia. Tidak, semua itu belumlah cukup. Lakukan hal lain (yang juga berupa tindakan) yang berefek besar bagi selain kita, bagi orang lain. Ajak dan ajarkan kepada yang lain bagaimana menyikapi produk local. Beritahu dan kerjakan bersama mereka ritus budaya yang dijunjung tinggi. Cinta kepada negeri tidak hanya terbatas kepada diri sendiri, tetapi juga orang lain sehingga merasakan efek dari tindakan kita.  

Sudahkah kita cinta?

     Secara lokusi, setiap hari kita mengatakan kita cinta negeri kita ini, Indonesia. Tapi secara ilokusi dan perlokusi, mungkin sebagian besar kita belum. Penulis menyadari benar akan hal ini. Semoga esai ini bermanfaat untuk menanamkan kepada para pembaca arti cinta yang sebenarnya bagi sebuah negeri bernama Indonesia.

Semester 4

Sebentar lagi, sya mau publish tulisan-tulisan lama yang dibuat saat belajar di UIN, semester 4an ,...:) bisa di cek di link   okezone 1 atau okezone 2 , ada juga detik ...................Hope you can enjoy it :)

Gerakan Hizmet dalam pendidikan Indonesia

Hizmet atau gerakan yang terinspirasi oleh pemikiran dan tindakan filsuf turki kenamaan, Fethullah Gulen, meliputi semua aspek kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali pendidikan. Gulen banyak menuangkan pemikiran-pemikiran tentang pembaruan di dunia Islam dan lebih mengedepankan dialog dan perdamaian antar umat beragama dalam menyebarkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Pemikiran-pemikirannya ini kemudian menjadi sebuah gerakan yang ia wujudkan dalam bentuk lembaga-lembaga pendidikan, lembaga amal, media massa cetak dan elektronik, perkumpulan-perkumpulan pelajar dan kelompok-kelompok lobi, bahkan membantu berdirinya asosiasi wartawan dan penulis (Journalists and Writers Foundation) di Turki pada tahun 1994. Gerakan Gulen juga memiliki media sendiri, termasuk koran Zaman, saluran tv Samanyolu, dan stasion radio Burc. Mereka juga memproduksi acara video dan audio. Mereka yang terlibat termasuk intelektual-intelektual kenamaan dari berbagai universitas bergengsi di Turki. Filantropi juga menjadi salah satu program terkenal Gerakan Gulen. Mereka mendirikan lebih dari 1000 sekolah di seluruh dunia, dari Tanzania ke Jepang dan Afrika, tetapi terutama di Asia Tengah. Kini orang-orang Turki yang telah terinspirasi oleh pandangan-pandangannya telah tersebar di sekitar 160 negara, dan di 150 negara tersebut mereka telah mendirikan lembaga pendidikan. Bila suatu negara ingin melihat masa depan  penuh dengan harapan, maka generasi mudanya harus dibekali pembelajaran. bila orang tua ingin memiliki anak yang berbakti, maka anaknya harus diletakkan pada tempat yang dapat membangun pikiran dan hatinya. Dari mereka kita dapat belajar semangat pengabdian yang tulus di tengah budaya egoisme mementingkan diri sendiri dan sikap acuh terhadap sesama. Bukankah nabi Muhammad mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan betapa pentingnya pendidikan demi kemajuan bersama di masa depan.
Gerakan Gulen mengoperasikan sekitar lebih dari 1.000 sekolah di 140 negara, surat kabar, TV, radio, universitas, dan bahkan bank. Lembaga-lembaga pendidikan ini menggunakan kurikulum yang sama dengan yang digunakan sekolah-sekolah negeri. Gulen memang menomorsatukan pendidikan yang bisa mengintegrasikan kaum Muslim ke dunia modern. Mereka menekankan nilai-nilai agama seperti perilaku yang baik dan hormat kepada mereka yang lebih tua. Sekolah-sekolah ini didukung oleh para pendukung Gulen, baik dari kalangan pengusaha, aristokrat, birokrat, bahkan rakyat biasa.  Para pengajarnya merupakan lulusan perguruan-perguruan tinggi terbaik Turki. Dan sekolah-sekolah itu dianggap berhasil menawarkan pendidikan berkualitas tinggi. Mereka memang dikenal sebagai pekerja keras dan sangat mendahulukan pelayanan (hizmet). Hizmet bukanlah merupakan jalan lain ataupun alternatif dari pergerakan yang sudah ada. Hizmet bergerak berdasarkan prinsip-prinsip positif, yakni bahwa gerakan ini secara independen berusaha untuk tidak menjadi oposisi dengan siapapun, dan senantiasa bersikap inheren mengikuti alur sistem di negara manapun mereka tinggal. Hizmet ini juga bertujuan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kemanusiaan, bekerjasama dengan organisasi-organisasi lain juga para legislator. Hizmet ini tidak menjadi oposisi dari siapapun, masyarakat manapun, dan bangsa manapun. Hizmet ini membuka pintu secara terbuka bagi orang-orang yang memiliki fikiran, budaya, dan agama yang berbeda, dengan tetap berlandaskan alqur’an dan sunah, memegang teguh prinsip-prinsip dasar hizmet dengan tetap menjunjung tinggi hak azasi manusia, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai universal kemanusian.
Pendidikan ala hizmet termanifestasi dan direalisasikan oleh NGO bernama Pasiad. Dalam perspektif penulis, apa yang dilakukan oleh Pasiad adalah wujud dari hizmet itu sendiri. Pasiad tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, tetapi juga bidang sosial budaya. Peran dan jasa Pasiad di Indonesia dan kawasan Pasifik lainnya tak perlu dibantah lagi. Terkait dengan pendidikan, semua tokoh besar di Indonesia memberikan testimoni tentang pendidikan jenis ini. Mereka memuji dan mengapresiasi jenis pendidikan yang dikembangkan. Gus Dur mendeskripsikan sistem pendidikan ala Turki ini sebagai sistem pendidikan yang mengedepankan pengembangan moral dan akhlak yang harus ditiru oleh bangsa besar seperti Indonesia ini agar keluar dari krisis multi dimensi.  Inilah, kata Gus Dur, yang diwariskan oleh Said Nursi dan Fethullah Gulen.
Pendidikan dengan konsep Gulen terealisasi dengan sangat baik oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Tercatat ada lebih dari enam sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan ini dan berasosiasi langsung dengan Pasiad. Sekolah-sekolah tersebut misalnya Kharisma Bangsa, Pribadi Bilingual School, Semesta, SBB Sragen, dan Fatih Bilingual School. Kesemuanya adalah sekolah internasional yang merupakan favorit dan dambaan siswa-siswi di Indonesia. Meskipun nama sekolah berbeda beda, tapi kaitan dengan Pasiad sangat erat, bahkan saat Presiden Turki berkunjung ke Indonesia, beliau tak luput untuk mengunjungi sekolah ala Turki ini. Selain di Indonesia, sekolah jenis ini diapresiasi dengan sangat baik di Rusia. Saat pembukaan sekolah Turki disana, salah satu pejabat pemerintahan bahkan mengatakan, adanya sekolah Turki di Rusia merupakan peristiwa historis tak terlupakan selain pengiriman astronot Rusia ke luar angkasa beberapa tahun sebelumnya.
Ada beberapa karakteristik sekolah dengan konsep hizmet yang dikembangkan oleh Pasiad, terutama mereka punya kesamaan atau keserupaan dalam tiga aspek, yakni visi-misi, program dan fasilitas penunjang. Pandangan Gulen yang integral ini termanifes dalam sekolah-sekolah yang terinspirasi pendapatnya, yang dilandasi semangat hizmet. Diantara karakteristik lembaga pendidikan tersebut:
a.       Terintegrasi dengan teknologi. Semua sekolah yang terinspirasi Gulen pasti mendukung pengajaran science dengan menyediakan fasilitas pengajaran komplit yang dilengkapi laborat. Karenanya tak mengherankan bila dalam olimpiade “science”, banyak siswa yang menyabet berbagai penghargaan interrnasional.
b. Visi Misi dan Program yang hampir sama, yakni pembentukan karakter dan akhlak lewat pendidikan moral serta pengembangan dan pengajaran sains terkini.
c.     Mempunyai fasilitas Bahasa yang canggih dan mewajibkan penggunaanya, baik Arab maupun Inggris. Fasilitas olahraga pun demikian.
d.    Training for Trainer, pelatihan bagi para pengajar dan staffnya. Termasuk berbagi pengalaman, ide dan motivasi antar pengajar yang rutin diadakan. Juga pengembangan kurikulum yang selalu dikontrol.

Kharisma bangsa bervisi “To participate in the education endeavors by making students know that they are the most beloved creations of God and to comprehend the exact meaning of the spirit of unity, helping appreciating to each other with care. We believe that this is the only way to reach for humanity and the real happiness”. Visi ini jelas sesuai dengan konsep pendidikan yang diteoritisikan oleh Gulen dan Bediuzzaman, bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk membuat mereka mendapatkan kehidupan dunia yang baik, lebih lanjut pendidikan adalah untuk menyadarkan kita akan Tuhan dengan segala kuasanya dan akan pentingnya moralitas – spiritualitas dalam hidup. Karenanya tak salah jika misi yang dikembangkan oleh Kharisma bangsa sangat ideal, yakni: Membekali siswa dengan ilmu pengetahuan terkini dan moral yang tinggi, Membimbing siswa agar berguna bagi nusa dan bangsanya, Menjadi lembaga pendidikan terdepan di dunia dengan sistem yang unggul.
Untuk merealisasikan visi-misinya, sekolah Kharisma Bangsa mempunyai 9 program unggulan yang ditawarkan kepada masyarakat Indonesia:
1.       Pendidikan Moral
2.       Kombinasi Kurikulum Nasional dan Internasional
3.       Fasilitas yang memadai
4.       Program Ekstrakurikuler
5.       Olimpiade Sains
6.       Konsep Asrama
7.       Pembangunan Karakter
8.       Persiapan Studi ke Luar Negeri
9.       Biaya yang terjangkau
Dengan konsep yang sedimikian matang, Kharisma bangsa tentunya menjadi sebuah alternatif, atau bahkan pilihan utama, bagi masyarakat ditengah tengah dikotomi sekolah Indonesia, antara yang negeri dan yang swasta, yang masih saja membawa dan melahirkan generasi yang krisis dimensi ahlak.
                Fatih Bilingual School yang bermotto “right environment for learning” menekankan diri pada kurikulum yang berbasis pengembangan skill, pengetahuan dan akhlak sebagai misinya. Mereka mempunyai empat visi sebagai berikut:
a.      Prepare students intellectually, morally, socially, emotionally, and physically for admission to the best universities/institution in the world.
b.      Ensure the development of essential social and natural sciences knowledge.
c.       Direct students into becoming effective communicators, networkers and cross-cultural team players. Facilitate learning and communication in multiple languages.
d.      Help students garner realistic objectives that foster a fondness of their language and culture, and a keen awareness of their surroundings to help them to become tolerant, open-minded and respectful towards other cultures in the multicultural context of the region, and the international sphere.
Untuk mewujudkan hal tersebut Fatih mempunyai 3 program andalan:
a.      A continuously revised and developed curriculum tailored to student needs.
b.      A dedicated and enthusiastic team of teachers who arc role models in every sense.
c.       A fully equipped, dynamic physical environment.
Konsep Fatih yang futuristik ini tentunya akan melahirkan generasi bangsa yang handal yang tidak hanya berpengetahuan tetapi juga bermoral dan mempunyai kualitas leadership. Yang luar biasa tentunya adalah bagaimana Fatih berusaha membentuk pelajar yang tidak hanya unggul dalam hal sains dan karakter, tetapi juga menonjol secara sosial, emosional dan dalam performansi fisik semisal dibidang seni. Ini adalah pandangan komprehensif, suatu perspektif yang melihat pendidikan sebagai wahana untuk membentuk manusia yang ideal. Cara yang holistik seperti ini adalah karakter dasar pendidikan model Gulen.
SBBS yang bermotto “school of champions” mempunyai visi yang serupa, yakni : Pusat keunggulan pendidikan yang ternama di daerah maupun Nasional dengan kualitas international untuk mewujudkan pribadi yang berilmu tinggi dan berakhlaq mulia serta mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka menawarkan fasilitas yang sangat kompleks sebagai berikut: a. Multimedia Classes b. Science & Computer lab c. Internet Access 24 Hours d. Asrama yang sejuk e. Library f. Music Room g. Swimming Pool h. Lapangan Basket Indoor i.  Lapangan Tenis  j. Luas Tanah 12 Ha. Mereka mempunyai sistem pendidikan yang kompleks dengan bentuk bimbingan berupa: a. Long Life Education b. Parent Visit c. Mother Class Program d. Camping Program e. Academic Consultation f. Counseling Program g. Self Study Morning – Night.
Hal yang mengagumkan adalah walaupun SBBS terletak di Sragen, yang tentunya secara lokus kurang strategis di bandingkan dengan sekolah-sekolah model Gulen lain, visi mereka tetap universal dan internasional. Bahkan mereka ingin pelajar yang bernaung menjadi jawara di bidang sains dan lainnya, to be champions. Untuk mewujudkan hal tersebut mereka bahkan menerapkan konsep belajar nonstop yang disebut self study. Tentunya, serupa dengan model sekolah ala Gulen yang lain, mereka menawarkan fasilitas yang mewah nan kompleks yang melebihi sekolah negeri di Sragen. Hal ini tentunya faktor luar biasa yang akan menarik minat dan atensi masyarakat Sragen dan sekitarnya. Apalah artinya visi dan misi yang luar biasa seandainya tidak diimbangi dengan fasilitas dan faktor penunjang yang lengkap untuk merealisasikannya. SBBS dengan demikian sudah lengkap dan ideal untuk mendidik anak-anak bangsa di wilayah tersebut.
Sekolah Pribadi berusaha mewujudkan generasi yang : 1. Who knows the basic aims of the National Education and strives to realize them. 2. Who digests the information and makes it his/ her own rather than mere memorizing. 3. Who is a researcher 4. Who gets along well wth technology, and continually renews himself/herself. 5. Who is cooperative, and likes sharing 6. Who is respectful to faith, sensitive to public values and environment. 7. Who acts with feeling of helping one another and solidarity. 8. Who is preferable at those fields relevant to his/ her education. 9. Who believes in quality. 10.  Who knows foreign languages, knows other cultures, who is integrated to the world, happy and succesfull. Hal ini merupakan harapan yang sangat luar biasa dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Generasi dengan karakter-karakter diatas tentunya tidak hanya akan membuat masyarakat maju dalam teknologi, tetapi juga berkualitas dalam moral dan berkarakter. Apa yang digariskan oleh sekolah Pribadi adalah apa yang diteoritisikan oleh Gulen tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu.
                Semesta meletakkan pondasi pembangunan menuju Indonesia baru dengan melalui pendidikan yang berwawasan internasional dan berakhlak mulia untuk generasi bangsa dari berbagai etnis, ras dan agama. Ini merupakan sekolah nasional berasrama yang menerapkan sistem pendidikan berkualitas dengan kurikulum Nasional Plus. Semesta merupakan sekolah unggulan yang didirikan atas kerjasama Yayasan Al Firdaus Indonesia dengan Assosiasi Pasiad Turki yang terletak di kota Semarang, Jawa Tengah. Sistem pendidikan berbasis siswa, dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris khususnya untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer, dan Bahasa Inggris. Dengan didukung fasilitas pendidikan yang modern dan canggih serta tenaga pengajar asing yang profesional yang siap mengantarkan putra-putri Indonesia dalam persaingan pendidikan baik tingkat nasional maupun internasional.
                Semua sekolah-sekolah tersebut,dengan lokasi yang terpisah jauh di seluruh wilayah Indonesia, mempunyai visi-misi, program dan fasilitas yang hampir sama. Tak lain hal tersebut dikarenakan mereka mengadopsi pendidikan perspektif Gulen. Gulen meskipun hidup nan jauh disana, Amerika Serikat, tetapi pandangannya mendunia dan diimplementasikan di semua negara, kecuali Iran yang memang tak mengizinkan “madrasah” ala Turki berdiri disana. Ini menunjukkan bahwa visi Gulen tentang pendidikan sangat bermanfaat di tataran praksis dan inilah yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan, metode edukasi yang holistik dan kaffah. Kesemua ini bisa tersebar luas tentunya disebabkan oleh sebuah “gerakan” komunitas yang disebut Hizmet.

Hizmet dalam Pandangan Tokoh Bangsa


Semua sekolah-sekolah yang menerapkan konsep pendidikan Gulen telah berhasil menelurkan prestasi baik nasional maupun internasional di bidang sains. Siswa-siswa Semesta berhasil meraih emas di kompetisi sains internasional di Novahamburgo Brazil. Di Jepang, salah satu siswa Kharisma bangsa berhasil merebut medali emas dalam olimpiade bertajuk IBO. Tahun 2007 di Adana, Turki siswa Fatih bilingual School meraih medali emas dalam kompetisi BUSEF.  Di Perancis, siswa SBBS berhasil meraih juara pertama tahun 2010 diajang Math Kangaroo Contest. Dalam ajang IYIPO di Georgia, siswa sekolah Pribadi meraih medali emas tahun 2007.
Sungguh luar biasa tentunya pencapaian tersebut. Hal ini sangat mungkin karena sekolah yang berbasis "hizmet" dilengkapi dengan fasilitas yang sangat memadai. Namun, prestasi dibidang sains tentunya harus diimbangi dengan “prestasi” spiritual, ataupun moralitas. Tidak ada kompetisi meraih medali emas ataupun perak dalam moralitas. Yang ada dalam menerapkan moral tinggi dalam hidup sehingga kita berguna bagi sesama dan agama. Sekolah dengan perspektif Gulen didirikan belum begitu lama di Indonesia. Karenanya, untuk menilai keberhasilan sekolah tersebut dalam pendidikan moral, belum begitu kentara. Penilaian tersebut paling cocok ditujukan kepada alumni-alumni sekolah yang menjadi tokoh di masyarakat dan melihat kebermanfaatannya. Namun, setidaknya, sekolah dengan model ini tidak pernah terlibat dengan kasus-kasus tawuran seperti yang terjadi pada SMA-SMA negeri favorit di daerah ibukota. Inilah bentuk manfaat dari pendidikan moral yang diterapkan di sekolah-sekolah ala Pasiad ini.
Sekolah dengan model yang demikian tentunya bisa banyak diharapkan. Gus Dur sendiri sebagai bapak bangsa sangat mengapresiasi, bahkan beliau menganjurkan untuk menirunya. Menteri Pendidikan Indonesia bahkan mengatakan kalau program pendidikan yang dilaksanakan PASIAD selama satu dekade terakhir telah memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya pembangunan sekolah bertaraf internasional di bidang pendidikan dasar dan menengah. PASIAD, menurutnya, telah memberikan contoh nyata dalam mengakselerasikan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan nasional, sehingga mampu mendorong sekolah dan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pendidikan yang baik." Rektor UIN Jakarta, Prof Komaruddin Hidayat mengatakan : “saya memiliki kesan kuat bahwa sekolah-sekolah itu didesain dengan konsep yang jelas dengan guru-guru yang profesional, dedikatif, dan sangat menekankan pembentukan karakter.”
Rektor Universitas Mercubuana, Dr Suharyadi, memberikan tanggapan yang kompleks. Menurutnya, Indonesia memerlukan lembaga pendidikan yang bertaraf internasional dengan kurikulum nasional plus untuk mempersiapkan generasi muda penerus yang mempunyai wawasan nasional dan global. Lembaga pendidikan ini harus telah teruji kualitas lulusannya dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan persaingan yang makin ketat. Program pendidikan yang dilaksanakan PASIAD sudah dapat memenuhi harapan tersebut dengan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa, yang di samping mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi sekaligus dilandasi oleh keimanan yang kuat. Pendidikan dengan konsep kurikulum dan tenaga pengajar yang diterapkan di PASIAD, telah terbukti mampu menghasilkan siswa-siswa yang memenangkan berbagai kejuaraan olimpiade internasional terutama di bidang pengetahuan dasar seperti matematika, fisika, biologi, kimia dan komputer. Konsep yang telah dikembangkan di berbagai wilayah ini, menurut beliau, diharapkan dapat terus berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia, sehingga makin banyak siswa yang mendapat kesempatan untuk dapat mengikuti program tersebut.
Penulis beranggapan bahwa pernyataan-pernyataan tokoh nasional Indonesia tersebut menunjukkan bahwa sekolah dengan model dan perspektif Gulen (Pasiad, Turki) adalah ideal untuk membangun bangsa dan manusia yang tidak hanya berprestasi tetapi juga bermoral. Orang Turki kenamaan bernama Ali Ozbudak suatu kali berujar “Membantu dunia pendidikan itu serupa dengan membangun rumah di surga.” Pendidikan dengan demikian sangat berkaitan dengan masa depan, baik masa depan duniawi maupun ukhrowi. Satu-satunya cara untuk mewujudkan dunia yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” tentunya adalah lewat dunia pendidikan. Dan pendidikan yang dikonsepsikan dalam gerakan hizmet merupakan sesuatu yang luar biasa. Karakteristik seperti: kasih sayang pada sesame, beretos kerja tinggi, rendah hati, jauh dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, kerja tim yang kokoh, bercita-cita tinggi dan jauh ke depan, selalu optimis dan profesional dicoba untuk diwujudkan dalam pola pendidikan yang dikelola oleh organisasi Pasiad.