Jumat, 05 Juli 2013

Bagian 2: Harimurti Kridalaksana di mata muridnya (Shohib Essir)


Masih tentang pak Hari.....
Pak Hari dan Oxford University
Menurut saya, pak Hari adalah orang yang sangat tajam hafalannya dan kemampuan berbahasanya luar biasa. Ia tahu banyak bahasa Latin, Jerman dan Belanda. Bahasa Arab pun beliau bisa, walaupun penguasaanya bersifat pasif. Seringkali pak Hari menulis istilah linguistik di papan menggunakan bahasa Arab. Di kelas, murid-muridnya kadang diminta menerjemahkan frasa dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Yang tidak bisa, diberi hadiah istimewa, yakni nasehat agar lebih tekun dan giat memberi perhatian ke frasa-frasa terkenal nan penting di berbagai bahasa. Bagaimana dengan bahasa Inggris beliau? Ah, saya tidak bisa menjelaskan dengan angka TOEFL, atau skor IELTS, yang jelas satu hal yang pernah beliau dapat karena kemampuan bahasa Inggrisnya itu: Beasiswa ke Oxford University, yang (sayangnya) pada akhirnya ia tolak. 


Pak Hari adalah satu-satunya orang yang terpilih untuk beasiswa itu dan sebelumnya mengalahkan puluhan saingannya. Niai beliau saat itu yang tertinggi. Saat bercerita, pak Hari tersenyum, bercampur tawa. Senyum itu saya artikan bahagia, nampak tak ada rasa penyesalan sedikitpun di wajah beliau yang sedang sumringah itu. 
“Bapak gag nyesal?” pertanyaan saya. “Saya tak menyesal karena alasan saya adalah jelas, kepentingan keluarga”. Keingintahuan saya bertambah, dan saya pun memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut, “Skema beasiswanya tidak boleh membawa keluarga ya pak? Beliau tak menjawab langsung. Namun malah bercerita kalau saat itu beliau mempunyai dua anak, dan gaji menjadi dosen di UI tidaklah mencukupi untuk menghidupi keluarganya. Pak Hari berfikir, seandainya ia menerima beasiswa itu, dan pergi ke Inggris Raya, siapa yang akan menghidupi istri dan anaknya dan bagaimana pendidikan mereka. Seingat saya, tahun-tahun itu adalah tahun penting. Entah sebelum atau sesudah masa ini, gencar sekali para pengajar UI yang pergi belajar ke luar negeri, entah ke negeri kincir angin atau ke tempatnya paman Sam. Anton Moeliono misalnya yang merupakan kakak kelasnya di UI, beliau studi ke USA. “Seandainya saya jadi di Oxford, saya hari ini tidak mengajar kalian”. Beliau tertawa lebar bersama kami di laboratorium leksikologi dan leksikografi. Sebelum sesi kelas berakhir, saya membuat pernyataan yang agag nyeleneh, “Ah, bapak sudah membuat panitia beasiswa itu kecewa dan marah,”. Pak Hari tertawa tambah lebar sambil menjawab, “mungkin...”. 

Pak Hari dan Linguistik Arab
Satu hal yang paling saya suka dari pak hari saat mengajar: selalu ada sesi breaking ice di awal dan sesi tanya bebas di akhir. Pak Hari selalu memberi mahasiswanya waktu untuk bertanya, bertanya apapun yang berkaitan dengan bahasa. Bukan saja bertanya malah, mahasiswanya boleh bercerita tentang peristiwa dan pengetahuan kebahasaan. Nah, kebetulan di buku pak Hari ada pembagian kata benda (nomina) menjadi takrif dan non takrif. Ini kesempatan buat saya untuk ngomong linguistik Arab.
S: Terkait pembagian nomina ini, apa bapak terkena pengaruh linguistik Arab?
H: Saya tidak tahu malah. Apa itu istilah dari linguistik Arab? (sambil tersenyum)
S: Iya pak, ini istilah dari bahasa Arab. Nomina dibagi menjadi dua, Takrif yang diistilahkan Ism Ma’rifat dan Non takrif yang diistilahkan Ism Nakiroh. Yang pertama adalah kata benda khusus, yang kedua adalah umum. Kelas kata dalam bahasa Arab secara tradisional memang masih dibagi tiga, namun sudah ada pendapat lain. Adalah Tammam Husein, salah seorang linguis Arab berkebangsaan Mesir yang belajar ilmu bahasa modern di University of London, langsung dari gurunya Halliday. Tammam inilah yang mengklasifikasi kelas kata dalam bahasanya menjadi tujuh, namun ditolak dan kurang dianggap oleh masyarakat bahasa Arab. Banyak yang beranggapan kalau teori Tammam adalah pengaruh tradisi keilmuan Barat, terutama soal teori kelas kata dan fonetiknya. 
Pak Hari melanjutkan obrolan soal kitab induk grammar Arab yang menurutnya bukanlah dibuat oleh orang Arab. Bagi beliau, orang Persia bernama Sibawaihi lah yang manjadi rujukan tata bahasa Arab. Beliau punya kitab itu, kecil, berwarna merah, namun karena ada pembangunan di UI, gedung tempat pak Hari di pindah dan sekarang tidak diketahui lagi dimana kitab itu.
Saya pun menimpali, “Saya tahu kitab itu pak. Ada di rumah, di Kudus,”. 
Lebih lanjut, saya bercerita ke pak Hari panjang lebar. 
S: Kakak saya yang mengajar di Pesantren adalah orang pertama yang mengenalkan kitab itu ke saya. Kitab itu memang tidak begitu tebal, tapi isinya singkat nan padat. Bagi kebanyakan orang, strukturnya susah dipahami dan karenanya untuk memahami grammatika Arab orang lebih memilih kitab-kitab lain yang memberi penjelasan kita Sibawaihi itu. Sibawaihi ini memang orang Persia, dan dari namanya saja kelihatan. Namanya kira-kira adalah gabungan dua kata, Sib dan Waih yang kalau diartikan adalah apel merah. Seingat saya, beliau dikenal karena pipinya yang berwarna merah. 
Saya pun menambahkan keterangan soal tradisi grammatika di Pesantren di Jawa. Statemen yang saya berikan ke pak Hari kala itusangat jelas,: Mereka sangat kuat. Santri di Jawa adalah mereka yang sangat kuat dalam hafalan dan cerdas dalam tata bahasa. Sejak awal, mereka diajari shorof dan nahwu, semacam fonetik-fonologi-morfologi-sintaksis. Cara belajarnya pun unik, lewat syi’ir dan nadzom-nadzom yang biasanya mereka hafal. Mereka dari awal didik untuk memahami bahasa Arab dalam taraf tulis, dalam bentuk teks yang menuntut ketelitian dan kejelian dalam mendekonstruksi (mengurai) susunan bahasa yang dibuat sang mushonnif kitab.
H: Shohib masih bisa (re:kitab)?
S: Masih pak....
Beliau tertarik dengan penjelasan yang saya sampaikan. Keterangan apapun yang diceritakan ke beliau pasti didengarkan dengan seksama karena keingintahuan beliau memang tinggi.
(Bersambung ke bagian 3).


Bagian 1: Harimurti Kridalaksana di mata muridnya (Shohib Essir)



Saat menjelajahi perpustakaan the Australian National University (ANU) beberapa hari yang lalu, ada dua hal yang langsung mengingatkan saya kepada pak Hari, sapaan akrab beliau. Pak Hari? beliau memang tak mau dipanggil professor ataupun doktor, walaupun kualifikasinya jauh melebihi kriteria untuk menyandang dua gelar tersebut. Pernah beliau berkelakar, disaat banyak orang tersinggung kalau tidak dipanggil dengan gelar akademik tertingginya, bahwa kalau saja beliau bertemu orang di jalan dan memanggilnya dengan prof Hari, ia malah tak merasa disapa. Pertama kali beliau berkenalan dengan orang, beliau selalu bilang, nama saya Hari, panggil saja pak Hari.Ya, begitu lah pak Hari. Dari caranya dipanggil saja, sudah menggambarkan “deep structure” beliau.

Pak Hari bukan hanya sekedar dosen buat saya, beliau adalah orang pertama yang menunjukkan ke saya betapa dangkal pengetahuan kebahasan kebanyakan dari kita saat ini. 


Alasan pertama, pernah saya bertanya ke beliau di ruang kelas mengenai minimnya literatur linguistik di perpustakaan UI, tempat saya studi pascasarjana dengan konsentrasi linguistik deskriptif. Tanpa merasa tersinggung, beliau dengan gamblang dan enteng menjawab, “karena saya bukan pimpinannya”. Seingat saya, beliau bahkan menyebut jabatan dekan atau rektor terkait hal ini. Dan kenyataannya, dalam skala Indonesia, Atmajaya memang surga untuk buku-buku lingustik, walaupun masih ada kekurangan di sana dan di sini. Lebih lanjut beliau bercerita, “saat saya dipilih menjadi rektor di Universitas Katolik Atmajaya, saya menganggarkan puluhan juta untuk pembelian buku-buku di perpustakaan”. Tak hanya itu, beliau juga menyediakan waktu untuk membaca dan melihat buku-buku di perpustakaan PKPB Atmajaya. 
Saya berdiri lama di lantai 4 perpustakaan Chifley, ternganga dan terpana. Chifley adalah salah satu perpustakaan di ANU, selain Menzies, Hancock, perpustakaan College of Law dan School of Art. Saya lihat puluhan rak-rak buku yang semua isinya  tentang linguistik dari beragam topik dan perspektif, dari hampir semua yang ditulis penulis Amerika, peneliti dan pembela London School hingga karya Mark Alexander Kirkwood Halliday yang sekarang berdomisili di Sydney, Australia yang meneguhkan pandangan semiotika sosial. Buku dengan tema language death dan revitalisation misalnya, ada hampir seratus, dan tanpa pikir panjang, saya langsung meminjam hampir 20 buku untuk saya bawa ke Toad Hall, tempat saya berdomisili.  Perpustakaan ANU memperbolehkan mahasiswa pascasarjana untuk meminjam 40 buku dengan durasi pinjam maksimal 6 bulan, kecuali ada yang recall. FYI juga, perpustakaan ANU memiliki hampir 3 juta buku cetak dan berlangganan hampir semua jurnal-jurnal premium dunia. Disini, ada pula fitur request yang memungkinkan mahasiswa ANU yang tidak menemukan buku yang dicarinya. Buku-buku itu-lah yang mengingatkan saya pada pak Hari. Tak ada linguis tanpa buku-buku yang memadai. Betapa vitalnya buku menurut beliau untuk menunjang seseorang menjadi ahli bahasa, linguis.

Kedua, ada Professor yang mirip karakteristiknya dengan beliau yang dulunya mengabdi di ANU. Nama keren beliau adalah Bob Dixon. Sama seperti pak Hari, beliau benar-benar mengabdikan dirinya untuk bahasa, mulai dari meneliti bahasa di pedalaman Australia, PNG hingga ke hutan Amazon di Brazil. Beliau bukan orang Aussie, tapi kelahiran London. Mr Bob ini luar biasa dahsyat dalam metodologi penelitian bahasa dan ahli dalam gramatika bahasa pedalaman. Oxford pun memuji habis kecanggihan beliau dalam hal morfologi dan sintaksis. Sementara itu, pak Hari memang tidak melakukan riset lapangan sebanyak beliau, tapi dedikasi beliau dalam pematangan teori bahasa Indonesia patut diacungi jempol. Teori morfologinya sudah lama diterbitkan dan memang luar biasa. Teori sintaksis beliau masih dalam bentuk buku yang dikonsumsi secara internal oleh murid-muridnya, termasuk saya dan teman-teman lain yang diberi kesempatan untuk mengkritiknya. Hebatnya, beliau merasa kalau teori sintaksisnya belum matang. Selain kesamaan dalam hal dedikasi, keduanya juga sama-sama menyebut diri sebagai ahli bahasa. Pak Hari yang tulisan dan makalah-makalahnya saya koleksi menyebut diri dengan ahli bahasa, Mr Bob mendeklarasikan dirinya dalam buku fenomenal, “ I am a linguist”. Saya kira penyebutan ini penting, dan ini berbeda dengan penyebutan gelar professor yang kadang terasa angkuh.

(Bersambung ke Bagian 2)

Kamis, 04 Juli 2013

Tok Pisin, -5 dan Canberra



Malam itu saya sedang menunggu bus di depan Uni-house. Seperti biasa, berdiri 5 menit sambil menikmati suhu -5, kemudian bus datang dan saya tag kartu MyWay sebagai tanda pembayaran. Saya melihat orang yang nampak familiar dan karenanya saya memberanikan diri untuk menyapa. Malam itu, saya tak sedang seperti biasa; wajarnya saya membawa bekal buku untuk dibaca di bus, atau melihat instagram di gadget untuk melepas penat, namun dua benda yang selalu menemani saya sedang tak akrab.
“Hello, you are familiar to me and i think i know you. Are you the tutor in Flexi-lab 1?
N: Sorry, a what?
A tutor in Chifley library?
N: Oh yes, yes..



Kita berdua sama-sama menaiki bus, dan saya sengaja tidak duduk dulu. Saya melihat-lihat bangku mana yang pas untuk obrolan ringan.    Kita duduk bersebelahan di belakang kursi sopir. Di Canberra, sopir memiliki “kandang” yang membatasinya agar fokus pada driving, safety first prinsipnya. Hanya ada dua kursi di belakang kandang itu, satu di kanan dan satu di kiri. 
“I always saw you when having ILP program at Chifley, i was in Flexi-lab 2 and you were in lab 1”
N: Oh, i see. So, you are studying here?
I’m doing my IAP and gonna start my master at CASS, ANU.
N: Wow, that’s great! My name is Neve, i am from PNG? and you?
My name is Shohib..
Nalar linguistik saya kemudian bangkit dan mulai mencari-cari apa saja dari PNG yang bisa dibicarakan, yang berkaitan dengan kebahasaan tentunya. FYI, jumlah bahasa di New Guinea adalah salah satu yang terbanyak di dunia, bahkan oleh salah satu profesor di ANU, Bob Dixon, dikatakan, NG adalah tempat dengan diversitas kebahasaan paling dahsyat dengan kompleksitas bahasa yang rumit.



“When i studied Linguistics in Indonesia, I knew that most of your people were talking in Tok Pisin”
N: Oh yes, yes. It is. But actually there are two (big) dialects. Tok Pisin and Motu. The first is basically English”
Saya sebenarnya mau memakai istilah Creole dan Pidgin, namun saya sengaja menghindari terma teknis itu karena saya saya ingin tahu lebih dalam perspektif bapak yang pekerjaanya mengelola perpus Menzies ini. 
kata “basically English” tentu menarik karena sebetulnya ia sadar dan tahu betul kalau bahasa itu adalah bahasa yang terbentuk karena kesepakatan, atas dasar lingua franca. Lanjut saja, saya berusaha memasang muka ingin tahu lebih banyak.
“Language is also about colonization”....(Silence for a minute)... and do you, i mean do people in your country having English in your schools?
Ia tak berbicara banyak soal penjajahan dan alam bahasa di negaranya itu. Ia mengalihkan pembicaraan, namun dengan topik yang sama, masih tentang bahasa. Nampaknya ia tertarik.
Well, actually the policy of our government is on that track. I mean started in 2006, policy on applying English in public schools as EMI did exist but it has been banned recently”.
N: I think it is good. It is better.
That’s is the topic that i really interested in. I’m doing an essay about it now.
N: Actually, i want to learn bahasa Indonesia..
Wow, but why?
N: Yes, i want to do so because you are our neighbors, we want to know you. Do you speak in bahasa and teach bahasa? i want to learn...
Karena saya sudah memutuskan untuk tidak bekerja selama 6 bulan pertama tinggal di Canberra, saya mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan tersebut agar bapak ini tidak merasa ditolak. Mungkin bagi orang lain ini adalah berkah. Tak gampang mencari kerja yang enak disini, nah ini, saya tak usah repot-repot mencari kerja dan tiba-tiba saat di bus ada orang yang mau memberi gaji tiap dua minggu. Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, bapak itu ingin tahu tentang saya lebih dalam.
N: What are you doing in Indonesia?
I’m working in a state university
Lecturing language?
Yes, i’m a young lecturer
N: Unbelievable..you are very good.
Momen ini saya jadikan momen untuk berbicara bilingualisme, dan saya merasa kewajiban untuk menjawab pertanyaan bapak yang tadi sudah hilang, bapaknya sendiri yang ganti topik...hehhe
“In my country, it is common for people to be bilingual; to speak two languages, Indonesian language is the official, national language to unify many ethnics who have already their own language. They can speak the particular vernacular and they can speak bahasa in formal conversation. Even, they could also speak in four languages when they going to boarding schools, as they learn arabic and they learn English too. It is very nice to have people like them.
N: “(Smiling happily)...That’s sounds great. I want to learn bahasa. My people, some of them also do the same”.
“I have a friend from PNG in my class who is doing Phd with related-to-language dissertation, i think it is about education and language. he’s name s Steven.
N: Wow, i think i know him.(Silence)...You are very nice young boy. By the way, PM of my country is now in Indonesia, or possibly two days ago.
Lantas saya mencoba menggiring isu bahasa yang sejak awal kita bicarakan ke dalam dunia politik. Tentu bahasa dan politik kaitannya sangat erat...sudah tak terbantahkan lagi :)
I’m sorry to say but what i heard was that there was no plane able to fly directly from Jakarta to Port Moresby”
N: That’s an issue among others that they arenow discuss. I hope it can be resolved”
I dislike to engage in practical politics of states because sometimes political stuffs is unreasonable. It is sometimes associated with prestige. no logic.
N: Yeah yeah (Nodding his head)
Bahasa dan politik jelas merupakan dua hal yang sangat menarik untk dibahas. tema dialek dan bahasa, kategorisasi keduanya biasanya saling bersinggungan. Apalagi kalo sudah dimasukkan ke dalam ranah sosiolinguistik. jadi lebih menarik.
Well, bus stop tempat saya berhenti sudah kelihatan. Saya pun memencet bel merah di tiang bus tanda ada penumpang yang mau berhenti di halte terdekat. Saya tag off kartu untuk mendapat concession dan kemudian menggunakan ekspresi fatis ke pak sopir dan mengucapkan "bye" ke bapak tadi...
Well, linguistik tidak melulu terkait dengan ruang kelas. ruang bus pun bisa menggugah gairah berlinguistik ria...

Canberra...